Nyi Mas Entjeh Hibahkan Semua Kekayaannya Buat Republik
Nyi Mas Entjeh Hibahkan Semua Kekayaannya Buat Republik , Artikel ini ditulis terkait Njimas Entjeh dari berbagai sumber , Njimas Entjeh , artikel ahli waris bukan membenarkan bahwa yang tertulis adalah ahli waris nya yang sah . Namun juga tidak menyalahkan . namun hanya sekedar catatan Muhammad Basuki Yaman terkait adanya jaringan mafia tanah yang beraksi di Dago , Rekayasa kolusi saling gugat yang terkait dengan jaringan dago elos muller dkk yang menyebutkan eigendome verponding nomor 11882 atas nama george hendrik muller namun ada pihak yang mengklaim dengan atasnama yang berbeda
Nyi Mas Entjeh Hibahkan Semua Kekayaannya Buat Republik, Tapi Dilupakan (2)

Nyi Mas Siti Aminah-screnshot-
EIGENDOM Dinotariskan.
Tanggal 25 Juli 1919 tanah-tanah Eigendom milik Nyi Mas Siti Aminah alias Nyimas Entjeh dinotariskan (Grosse Akta) menjadi Acte Van Eigendom, lalu kemudian menjadi Collateral untuk obligasi 153 negara di dunia.
Oleh: Safari Ans.
(Peneliti dan Jurnalis Investigator Aset Global Nusantara).
TAK lama kemudian, ada upaya pembentukan Badan Pusat Reclasseering dengan yang bertepatan dengan pendirian Prasasti Lingga di Sumedang oleh Pangeran Surya Arya Atmaja dan para sahabat yang terdiri dari HOS Tjokroaminoto, Ki Hajar Dewantoro, Dr Soetomo, dan KH Agus Salim di alun-alun Sumedang yang esensinya mengandung makna cikal bakal Pancasila.
Situasi semakin mendesak, pada tahun 1920, John Henry van Blommestein dan Nyi Mas Siti Aminah alias Nyi Mas Entjeh meminta kepada Herman Cantius van Blommestein alias Otto dan Soekarno memberi nama dan simbol pada nama stasiun kota bernama “BEOS” (Blommestein, Entjeh, Otto, dan Soekarno).
Membuat Monas
Saat itu Otto dan Soekarno baru saja lulus sebagai arsitek (teknik sipil) dari Technische Hoogeschool Te Bandoeng (sekarang ITB) untuk berkarya dan mulai memikirkan dan merancang konsep arsitek pembangunan tata kelola wilayah atau daerah dan negara. Sehingga melahirkan karya besarnya. Salah satunya Bendungan Jatiluhur, Monas, Jembatan Ampera, Gelora Senayan, serta menata sungai Citarum, Cimanuk, Citanduy, Cisadane, serta pembangunan Peruri 1 untuk mencetak uang di Cikampek Karawang (mekarnya uang).
Pada tahun 1922, setelah menunjukkan karya besar Otto dan Soekarno tersebut di atas, maka John Henry van Blommestein dan Nyi Mas Siti Aminah alias Nyi Mas Entjeh mengatakan “Saya akan memerdekakan Nusantara”. Dalam jangka waktu beberapa tahun kedepan harus mulai dirancang, direncanakan, didesain secara cermat dan cerdas dengan membangun gerakan menuju Nusantara Raya dan Jaya. Saat itu, didirikanlah gedung Liga Bangsa Bangsa (LBB) yang sekarang bernama Gedung Merdeka di Bandung.
Sayang pada 1927 John Henry van Blommestein meninggal dunia pada 17 September 1927 di Zending Hospitaal Immanuel Bandung (sekarang Rumah Sakit Immanuel). Nyi Mas Siti Aminah alias Nyi Mas Entjeh meminta kepada Otto dan Soekarno untuk merintis pembentukan Nusantara Merdeka segera Terwujud.
Sumpah Pemuda
Pada tahun 1918, Nyi Mas Siti Aminah alias Nyi Mas Entjeh segera memanggil Soekarno dan memainkan peranan Soekarno sebagai figur tokoh perjuangan Nusantara dengan mengadakan pertemuan dengan perkumpulan tokoh-tokoh pemuda se Nusantara. Mereka berkumpul di Gunung Salak dan Istana Bogor untuk mengadakan ikrar Sumpah Pemuda yang dipelopori oleh Dr. Soetomo, Dr. Setiabudi (keduanya tokoh Budi Oetomo), HOS Tjokroaminoto (tokoh Serikat Islam), KH Agus Salim, Ki Hajar Dewantoro, dan tokoh lainnya.
Kegiatan ini merupakan awal dari pembentukan Nusantara Kerajaan Rakyat Indonesia (NKRI) – bukan Negara Kesatuan Republik Indonesia – sebagai perwujudan dari nasionalisme dan Islamisme dari kerajaan atau dinasti se Nusantara yang dikelompokan menjadi 9 (sembilan) Gatra (Ikatan Soerya Negara). Yaitu; Gatra Andalus, Gatra Sunda, Gatra Jawa, Gatra Bali, Gatra Borneo, Gatra Selebes, Gatra Maluku, Gatra Papua, dan Gatra Nusa Tenggara. Saat itu, Otto dan Soekarno mulai memainkan peran politiknya.
Pada tahun 1931, pengesahan Badan Pusat Reclasseering resmi menjadi Lembaga Internasional yang bertugas sebagai Lembaga Hukum Internasional yang berhubungan dengan International Justice dan Interpol yang hingga kini masih tetap eksis.
Berdirinya UBS
Sekitar 1936, pasca wafatnya suami Nyi Mas Siti Aminah alias Nyi Mas Entjeh mulai memainkan perannya sebagai Ibu Pertiwi dengan membuat gerakan-gerakan. Diantaranya, menciptakan lagu Indonesia Raya 3 stanza. Lalu, Javasche Bank dibubarkannya, namun ia didirikan Union Bank of Switzerland (UBS) yang merupakan gabungan (union) dari beberapa bank, yaitu Bank Tani Nelayan, Bank Gulo Klopo, Bank Rempah-Rempah, Bank Sutra sekaligus mendirikan Bank Netherland Indische.
Kedua, Nyi Mas Entjeh memindahkan kantor Union Bank of Switzerland (UBS) yang tadinya di Jawa (Nusantara) ke Switzerland (Eropa). Saat itu UBS berperan sebagai Bank Collateral House pencetakan 126 mata uang dan obligasi 153 negara di dunia dengan jaminan (collateral) aset-aset milik Nyi Mas Siti Aminah alias Nyi Mas Entjeh berupa tanah Eigendom. Lalu Nyi Mas Entjeh mendirikan NV. Bloomkring.
Namun pada 1939, NV. Bloomkring dibubarkan dna Nyi Mas Siti Aminah alias Nyi Mas Entjeh tidak membuat testamen wasiat kepada siapapun. Saat itu, Soekarno menyampaikan kepada ibu angkatnya Nyi Mas Siti Aminah ingin menjadi presiden atau perdana menteri. Ketika itu yang jadi Presiden Hindia Belanda adalah Ratu Wilhelmina van Oranje Nassau. Tentu saja hal ini menjadi pikiran bagi Nyi Mas Entjeh dan mulai membangun strategi.
Perjanjian Lima Benua
Bahkan tahun 1941, Nyi Mas Entjeh membuat lembaga finance International Bank yang wilayah operasionalnya mencakup tiga benua, yaitu Eropa, Amerika, dan Australia. Lembaga ini kemudian cikal bakal dan tumbuh menjadi World Bank (Bank Dunia). Wilayah cakupan operasionalnya pun bertambah dua benua, yaitu; Asia dan Afrika. Inilah kemudian kelak dikenal sebagai Perjanjian Lima Benua. Semangat ini bertepatan dengan Dasasila Bandung tahun 1955 melalui Konferensi Asia Afrika yang kemudian menjadi gerakan Non Blok.
Perjuangan Nyi Mas Entjeh terhenti. Tanggal 5 Januari 1944, Nyi Mas Siti Aminah alias Nyi Mas Entjeh wafat. Kabarnya diracun oleh Jepang. Karena Jepang tahu, Nyi Mas Entjeh yang mendanai perjuangan kemerdekaan Indonesia. Padahal pada tahun yang sama, tanggal 2 - 22 Juli 1944, diadakan perjanjian Bretton Woods di dunia keuangan dan perbankan. Hasil perjanjian itu melahirkan IMF, Bank Dunia, dan WTO. Kemudian disepakati mata uang dolar (USD) dijadikan standar mata uang dunia, dan logam mulia dijadikan collateral mencetak uang. Tidak boleh lagi, cetak uang gunakan kolateral hamparan tanah seperti The Promised Land tahun 1917.
Emas 140 Juta Kg
Inilah dasar Soekarno pada tahun 1963 membantu Amerika Serikat dengan emas Nusantara sebanyak 140.000.000 kg (seratus empat puluh kilogram) untuk mencetak dolar baru melalui perjanjian The Green Hilton Memorial 14 November 1963 antara Soekarno dan John F Kennedy. Bahkan Soekarno dengan mandat yang diberikan 128 raja Nusantara menyiapkan emas milik raja-raja Nusantara melalui PoA (Power of Authorny) Paku Buwono X (PB X) sebanyak 62.000.000.000 kg (enam puluh dua milyar kilogram) sampai sekarang untuk mengganti jaminan pencetakan mata uang dan obligasi negara-negara anggota PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa. Bravo Nusantara***
Komentar
Posting Komentar